
Babarit: Tradisi Rasa Syukur dan Harmoni dengan Alam
Babarit adalah tradisi adat masyarakat Sunda, khususnya di daerah pesisir utara Jawa Barat. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Desa Karangsari merupakan bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil panen atau hasil laut yang melimpah, sekaligus sebagai doa agar kehidupan mereka senantiasa diberkahi dan dijauhkan dari bencana.
Asal Usul dan Makna
Kata babarit berasal dari bahasa Sunda yang berarti ngabagi rejeki atau berbagi rezeki. Tradisi ini memiliki makna yang sangat dalam, tidak hanya sebagai wujud syukur, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan, solidaritas, dan keharmonisan antara manusia dengan alam serta leluhur.
Dalam pelaksanaannya, Babarit sering dikaitkan dengan kepercayaan lokal, misalnya penghormatan kepada roh leluhur atau penunggu tempat tertentu seperti laut, sungai, atau sawah. Namun, nilai utamanya tetap pada rasa syukur dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Rangkaian Acara Babarit
Pelaksanaan Babarit umumnya dilakukan secara gotong royong oleh warga satu desa atau dusun. Berikut adalah beberapa kegiatan khas dalam tradisi ini:
- Ngariung (Berkumpul Bersama)
Masyarakat berkumpul di tempat tertentu, biasanya di balai desa, lapangan, atau dekat lokasi yang dianggap sakral seperti sumber air atau pantai. - Membawa Tumpeng dan Hasil Bumi
Warga membawa berbagai makanan, hasil bumi, dan laut seperti tumpeng, nasi kuning, ikan, buah, dan sayuran. Semua makanan ini dikumpulkan dan didoakan bersama. - Doa Bersama
Sesepuh atau tokoh agama setempat memimpin doa sebagai bentuk syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan. Kadang doa juga disertai harapan agar dijauhkan dari pagebluk (bencana), kekeringan, atau gagal panen. - Makan Bersama
Setelah doa, makanan dibagikan dan dimakan bersama.
Nilai Budaya dan Kearifan Lokal
Tradisi Babarit mengandung banyak nilai luhur, seperti:
- Kebersamaan dan gotong royong
- Kepedulian sosial dan empati
- Pelestarian budaya lokal
- Harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas
Pelestarian di Era Modern
Meskipun zaman telah berubah, tradisi Babarit masih tetap dipertahankan oleh masyarakat, bahkan dijadikan sebagai atraksi budaya dan pariwisata lokal. Pemerintah daerah dan komunitas budaya sering mengadakan festival Babarit tahunan untuk melestarikan warisan ini sekaligus menarik minat generasi muda.
Penutup
Babarit bukan hanya ritual adat, melainkan cerminan dari filosofi hidup masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi rasa syukur, kebersamaan, dan keseimbangan hidup. Di tengah dunia yang semakin modern, nilai-nilai dari tradisi ini tetap relevan dan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni dengan sesama dan dengan alam.
“DRM”